“Hanya ingin berbagi cerita”

Raisya Azzahra
4 min readApr 18, 2023

Beberapa waktu kemarin, banyak sekali hal-hal yang sebenarnya ingin saya ceritakan melalui patform ini. Namun, karena padatnya aktivitas dan kurangnya motivasi untuk menulis, akhirnya saya kembali menahannya di dalam pikiran saya sendiri. Entah kenapa hari ini ada dorongan yang membuat saya ingin sekali untuk menulis sebuah cerita sederhana, akan tetapi syarat makna yang terkadang luput kita sadari. Saya pun mencoba untuk menuangkan pesan dari cerita tersebut disini sekaligus mengawali tulisan pertama saya di tahun 2023.

Pagi ini seperti biasa saya turun di halte Transjakarta dekat kantor saya. Mata saya kemudian tertuju kepada seorang Bapak yang berdiri tidak jauh dari tikungan dekat pintu keluar halte Transjakarta. Tangannya memegang setumpuk koran. Ketika saya melewati Bapak itu, beliau tersenyum dan berkata, “Koran-nya, mba.”

Saya hanya dapat mengangguk dan membalas senyum Bapak itu dari balik masker. Pada waktu yang sama di keesokan harinya, Bapak itu masih berdiri di tempat yang sama sambil memegang tumpukan koran di tangannya. Seperti kemarin, beliau selalu tersenyum dan menawarkan koran kepada orang-orang yang melewati jalan itu. Setiap hari saya melewati jalan itu dan melihat Bapak penjual koran, saya jarang melihat ada orang yang berhenti dan membeli koran dagagan-nya. Dalam hati saya berkata, siapa juga yang saat ini masih mau membeli dan membaca koran? Kalaupun ada juga pasti jarang. Apalagi beliau berjualan di daerah pusat kota Jakarta yang mayoritas orang-orangnya sangat modern dan tentunya lebih prefer menggunakan gadget untuk mengakses informasi daripada harus repot-repot membaca koran.

Namun, setiap hari bertemu dan melihat semangat Bapak itu yang selalu tersenyum dan menawarkan koran, timbulan rasa prihatin dalam diri saya. Rasanya ingin sekali membeli koran yang Bapak itu jual, tapi masih ada keraguan dalam hati saya untuk membelinya. Dalam hati saya bertanya-tanya, buat apa saya membeli koran? Karena belum tentu saya juga membacanya. Akhirnya, saya hanya bisa membalas senyuman Bapak itu sambil menolak secara halus setiap Bapak itu menawarkan koran dagangannya.

Beberapa hari kemarin, saya juga mengalami ujian kecil. Pertama, saya kehilangan barang yaitu lanyard yang terdapat kartu SIM di dalamnya. Setelah saya contact panitia acara yang saya yakini menjadi lokasi hilangnya barang saya tersebut, alhamdulillah panitia menemukan barang tersebut dan masih rezeki saya untuk mendapatkannya kembali. Kemudian, ada ujian kecil lagi dimana saya kembali kehilangan salah satu barang yang cukup penting sebagai identitas saya di kantor. Namun sayangnya sampai saat ini barang tersebut belum dapat ditemukan. Saya sudah berusaha menghubungi petugas, namun saya masih belum dapat informasi atau kabar apa pun. Rasanya sulit untuk menemukannya kembali. Dalam hati, ada rasa penyesalan kenapa saya tidak menyimpan barang tersebut dengan baik. Akan tetapi di satu sisi, saya juga menyadari bahwa hal ini sudah terjadi dan saya harus menerima kejadian ini agar kedepannya dapat menjadi pelajaran bagi saya untuk lebih menjaga barang-barang saya dengan baik.

Keesokan harinya dalam perjalanan menuju kantor, saya melihat kabar duka dari salah satu content creator pendidikan yang sering saya tonton kontennya. Ia membagi postingan untuk meminta doa karena Ibunya meninggal secara mendadak. Dalam caption yang ia tulis, ada kata-kata yang mengetuk hati saya.

Cara membuat orang tua kita bahagia bukan hanya dengan pencapaian ataupun “bucketlist” duniawi, namun dengan menjadi bekal menuju akhirat yang terus di pupuk.

Saya mengakui bahwa terkadang kita terlalu fokus untuk mengejar pencapaian duniawi agar sukses dan dapat membahagiakan kedua orang tua kita, akan tetapi kita jadi lupa untuk meluangkan waktu juga dengan mereka. Hal itulah yang kembali menyadarkan saya bahwa kehilangan barang walaupun seberapa penting barang apapun itu, tidak akan pernah sebanding dengan kehilangan orang yang kita cintai. Saya menjadi lebih bersyukur dan merasa diingatkan kembali oleh Allah kalau ujian kecil yang kemarin saya alami masih belum ada apa-apanya.

Sesampainya di halte, saya melihat Bapak penjual koran sudah berdiri di tempat yang sama seperti hari-hari kemarin. Kali ini saya sudah berniat untuk membeli koran Bapak itu. Seperti biasa, beliau kembali tersenyum dan menawarkan koran-nya. Saya membalas senyuman Bapak itu dan berkata, “Boleh Pak, saya beli satu ya koran-nya.” Mendengar ucapan saya tersebut, beliau terlihat sangat senang dan langsung menawarkan koran apa yang ingin saya beli. Saya memilih acak salah satu jenis koran yang akan saya beli. Setelah membayar koran tersebut, beliau mengucapkan terima kasih. Melihat raut wajahnya yang terlihat sangat senang dan bersyukur, saya jadi ikut merasakan apa yang beliau rasakan.

Walaupun saya belum tentu akan membaca koran ini, setidaknya hati saya lega karena dapat memberikan sebagian rezeki yang saya punya untuk membeli koran yang beliau jual. Saya berdoa semoga beliau selalu diberikan kesehatan dan tetap semangat berjuang dalam mencari nafkah yang halal. Kejadian inilah yang akhirnya memberikan semangat bagi saya setiap harinya ketika berjalan menuju kantor.

Semoga cerita ini dapat menyadarkan kita bahwa di setiap kejadian yang kita alami, pasti selalu ada hikmah yang ingin Allah sampaikan kepada kita untuk terus memaknai arti hidup. Selain itu, tetaplah mengambil hikmah dari kesalahan-kesalahan yang pernah kita buat dengan bersyukur, karena itulah yang akan mengajarkan pelajaran berharga untuk kita nantinya.

“ Barang siapa yang tidak mensyukuri yang sedikit, maka ia tidak akan mampu mensyukuri sesuatu yang banyak.” — HR. Ahmad

--

--

Raisya Azzahra

mencoba mengekspresikan perasaan dengan untaian kata-kata.